Postingan

SENTUH HATINYA

Sebelum larut dalam cerita hilangnya kucing asrama, saya sedang berbicara dengan seorang teman asrama. Saya memanggilnya abang karena memang usianya setahun lebih tua dibandingkan saya. Pembicaraan kami berpusat pada toleransi yang akhir-akhir ini rapuh. Dia menceritakan tentang pengalamannya dalam menumbuhkan kembali rasa toleransi seperti menggalang pemuda-pemuda dengan berbagai latar belakang agama untuk membersihkan tempat ibadah. Saya dibuat terkejut karena dia memiliki pemahaman agama yang baik. Dalam arti dia pun belajar beberapa pandangan mendasar sebuah agama. Pembicaraan berlanjut. Kali ini dia mengatakan sesuatu yang sedikit mengugah nalar saya. Dia bilang begini "Dek, kalau kau ingin menyentuh seseorang, maka sentuhlah hatinya bukan pikirannya!" Saya seolah tersedak mendengar pengakuan itu. Betapa tidak, saya justru terbiasa mendengar dan berpikir bahwa menyentuh pikiran jauh lebih baik dan adalah satu-satunya cara dalam menggapai diri orang lain. Ternyata, d...

HILANG

Terkadang, sebuah percakapan dapat membawa kita menjelajahi pemikiran sederhana, seperti yang terjadi selamam. Seorang perempuan duduk bersila sambil menutupkan wajah dengan kedua telapak tangannya yang halus. Perempuan ini mungkin hanyalah gambaran kecil wanita dengan kepekaan akan makhluk lain.  Kami duduk berhadapan menonton tv. Kebetulan sekali wajah Angelina Jolie terpampang jelas di hadapan kami berdua. Ia bilang ia begitu suka Jolie apalagi bibirnya itu. Seksi bukan main. Aku pun menimpali bahwa Jolie sendiri adalah aktris Hollywood yang pernah dinobatkan sebagai artis pemilik bibir terseksi. Dan kami lepas dalam tawa yang tak dapat diterjemahkan oleh alam. Hanya kami berdua yang tahu.  Sesekali aku menyeringai ketika dia mulai berkisah tentang salah satu kucing kesayangannya. Katanya kucing itu suka sekali berdiam diri dalam kardus. Kadang jika bukan kardus, maka pilihan lainnya yang cukup aman adalah helm motor. Aku geli membayangkan ada kucing menyelinap ...

BATAS

Apakah kita membatasi atau justru kita yang dibatasi? Pertanyaan ini sekelebat hadir dalam benakku kala kupandang kejadian yang terkadang membuatku tak percaya bahwa segalanya benar terjadi. Di antara sekian banyak kerisauan, ketakutan ini hadir atas dasar empati yang tak dapat kupahami. Banyak dari kita berpikir bahwa jika ada seseorang, semisal teman banyak melakukan kesalahan melampaui batas kewajaran manusia, maka orang tersebut sudah seharusnya dijauhi lantas ditinggalkan. Parahnya, di kemudian hari timbul sikap parno berlebihan akan pribadi teman tersebut meskipun sebenarnya kita sungguh-sungguh mengetahui bahwa orang yang sedang kita hadapi sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun untuk memberontak. Tidak ada perlawanan apalagi permusuhan. Boleh jadi, orang tersebut justru ingin bersahabat dengan kita. Justru di sinilah peran kita dalam membangun kehidupan orang lain dipertanyakan. Kadang saya bertanya, mengapa kita sebagai manusia dengan mudahnya terlibat dalam suatu g...

CADAS

Gambar
http://sonimancing.blogspot.co.id/2011/10/pulau-karang-keren.html Sama seperti angin menitipkan hembusan, maka biarkan aku menitipkan resah yang tak mampu diungkapkan lewat kata. Sayang, aku tak bisa mengatakan ini rindu sebab rindu tak seharusnya berbalut luka akan rupamu. Dan di detik ini, aku masih tak paham mengapa kepercayaanku jatuh pada manusia sepertimu. Tidak inginkah kau mendengarku meski hanya untuk menyapa atau katakanlah bertanya kabar atau boleh jadi sekedar menyinggung hal sepele lantas tertawa renyah untuk beberapa saat dan kembali aktif melototi layar persegi panjang itu? Ah, inikah yang kau sebut dengan gravitasi tak berarti? Yang selalu kau dengungkan manakala kau tak ingin aku terlampau lupa diri? Atau inikah yang selalu kau tekankan padaku? Bahwa permen yang telah dibuka dan diemut sudah pasti tak senikmat sebelum ia dibuka, sebab kenikmatan sejati justru berada di titik di mana kita hanya bisa membayangkan seperti apa rasanya? Apakah lantas itu berart...