SENTUH HATINYA
Sebelum larut dalam cerita hilangnya kucing asrama, saya sedang berbicara dengan seorang teman asrama. Saya memanggilnya abang karena memang usianya setahun lebih tua dibandingkan saya. Pembicaraan kami berpusat pada toleransi yang akhir-akhir ini rapuh. Dia menceritakan tentang pengalamannya dalam menumbuhkan kembali rasa toleransi seperti menggalang pemuda-pemuda dengan berbagai latar belakang agama untuk membersihkan tempat ibadah. Saya dibuat terkejut karena dia memiliki pemahaman agama yang baik. Dalam arti dia pun belajar beberapa pandangan mendasar sebuah agama. Pembicaraan berlanjut. Kali ini dia mengatakan sesuatu yang sedikit mengugah nalar saya. Dia bilang begini "Dek, kalau kau ingin menyentuh seseorang, maka sentuhlah hatinya bukan pikirannya!" Saya seolah tersedak mendengar pengakuan itu. Betapa tidak, saya justru terbiasa mendengar dan berpikir bahwa menyentuh pikiran jauh lebih baik dan adalah satu-satunya cara dalam menggapai diri orang lain. Ternyata, d...