SENTUH HATINYA
Sebelum larut dalam cerita hilangnya kucing asrama, saya sedang berbicara dengan seorang teman asrama. Saya memanggilnya abang karena memang usianya setahun lebih tua dibandingkan saya. Pembicaraan kami berpusat pada toleransi yang akhir-akhir ini rapuh. Dia menceritakan tentang pengalamannya dalam menumbuhkan kembali rasa toleransi seperti menggalang pemuda-pemuda dengan berbagai latar belakang agama untuk membersihkan tempat ibadah. Saya dibuat terkejut karena dia memiliki pemahaman agama yang baik. Dalam arti dia pun belajar beberapa pandangan mendasar sebuah agama.
Pembicaraan berlanjut. Kali ini dia mengatakan sesuatu yang sedikit mengugah nalar saya.
Dia bilang begini "Dek, kalau kau ingin menyentuh seseorang, maka sentuhlah hatinya bukan pikirannya!"
Saya seolah tersedak mendengar pengakuan itu. Betapa tidak, saya justru terbiasa mendengar dan berpikir bahwa menyentuh pikiran jauh lebih baik dan adalah satu-satunya cara dalam menggapai diri orang lain.
Ternyata, dalam perkembangan selanjutnya dia benar. Di atas pikiran terdapat hati yang tidak dapat dibohongi. Kita boleh jadi mampu menggapai manusia dengan pikiran dan kecerdasan, tapi lebih dari itu, kita dapat menyentuhnya dengan hati. Hati untuk menerima diri orang lain apa adanya, sebagaimana kita menerima diri kita. Tidak dengan menuntut atau memohon perhatian lebih. Hati untuk mencintai dengan semangat memberi, bukan agar kita menerima, tapi lebih dari itu agar kita mampu merasakan ketiadaan dari mereka yang belum dan tak memiliki. Hati untuk menyadari bahwa segala sesuatunya terhubung bahkan tanpa kita sadari kita telah menjalani dan berada di dalamnya. Hati untuk merasakan seperti apa cintaNya yang kudus. Hati untuk memahami bahwa kasih yang tulus dapat membawa kita pada cinta sejati... Bahwa hidup tak semestinya berbicara tentang ekspetasi, cukup dengan selalu percaya pada KasihNya yang Agung.
Oh Kasih, Oh, Engkau yang memiliki bumi, betapa aku terlalu kecil bagiMu dan betapa luar biasanya Cinta yang Engkau berikan bagiku.
Aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa ketika aku bersyukur akan apapun hal yang terjadi padaku, baik di luar maupun di dalam diriku, aku dapat mengenal RupaMu yang luar biasa....
Oh, Kasih, O Cinta.... Datanglah memenuhi hatiku yang gersang akan KasihMu....
Pembicaraan berlanjut. Kali ini dia mengatakan sesuatu yang sedikit mengugah nalar saya.
Dia bilang begini "Dek, kalau kau ingin menyentuh seseorang, maka sentuhlah hatinya bukan pikirannya!"
Saya seolah tersedak mendengar pengakuan itu. Betapa tidak, saya justru terbiasa mendengar dan berpikir bahwa menyentuh pikiran jauh lebih baik dan adalah satu-satunya cara dalam menggapai diri orang lain.
Ternyata, dalam perkembangan selanjutnya dia benar. Di atas pikiran terdapat hati yang tidak dapat dibohongi. Kita boleh jadi mampu menggapai manusia dengan pikiran dan kecerdasan, tapi lebih dari itu, kita dapat menyentuhnya dengan hati. Hati untuk menerima diri orang lain apa adanya, sebagaimana kita menerima diri kita. Tidak dengan menuntut atau memohon perhatian lebih. Hati untuk mencintai dengan semangat memberi, bukan agar kita menerima, tapi lebih dari itu agar kita mampu merasakan ketiadaan dari mereka yang belum dan tak memiliki. Hati untuk menyadari bahwa segala sesuatunya terhubung bahkan tanpa kita sadari kita telah menjalani dan berada di dalamnya. Hati untuk merasakan seperti apa cintaNya yang kudus. Hati untuk memahami bahwa kasih yang tulus dapat membawa kita pada cinta sejati... Bahwa hidup tak semestinya berbicara tentang ekspetasi, cukup dengan selalu percaya pada KasihNya yang Agung.
Oh Kasih, Oh, Engkau yang memiliki bumi, betapa aku terlalu kecil bagiMu dan betapa luar biasanya Cinta yang Engkau berikan bagiku.
Aku bahkan tidak pernah menyadari bahwa ketika aku bersyukur akan apapun hal yang terjadi padaku, baik di luar maupun di dalam diriku, aku dapat mengenal RupaMu yang luar biasa....
Oh, Kasih, O Cinta.... Datanglah memenuhi hatiku yang gersang akan KasihMu....
Komentar
Posting Komentar