BATAS


Apakah kita membatasi atau justru kita yang dibatasi?

Pertanyaan ini sekelebat hadir dalam benakku kala kupandang kejadian yang terkadang membuatku tak percaya bahwa segalanya benar terjadi. Di antara sekian banyak kerisauan, ketakutan ini hadir atas dasar empati yang tak dapat kupahami. Banyak dari kita berpikir bahwa jika ada seseorang, semisal teman banyak melakukan kesalahan melampaui batas kewajaran manusia, maka orang tersebut sudah seharusnya dijauhi lantas ditinggalkan. Parahnya, di kemudian hari timbul sikap parno berlebihan akan pribadi teman tersebut meskipun sebenarnya kita sungguh-sungguh mengetahui bahwa orang yang sedang kita hadapi sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun untuk memberontak. Tidak ada perlawanan apalagi permusuhan. Boleh jadi, orang tersebut justru ingin bersahabat dengan kita.
Justru di sinilah peran kita dalam membangun kehidupan orang lain dipertanyakan.

Kadang saya bertanya, mengapa kita sebagai manusia dengan mudahnya terlibat dalam suatu gambaran kolektivitas?
Atau mengapa kita memilih menceburkan diri dalam lautan pikiran beragam manusia yang sudah tentu berbeda?
Bukankah jika kita ingin menelusuri kedalaman jiwa seseorang, maka kita pun akan menemukan jati diri kita yang sejati?
Atau terlalu naifkah kita akan eksistensi seonggok daging bernyawa yang juga bernama manusia?
Atau mengapa kita lebih suka membandingkan dua hal yang sejatinya sama? Kita dan dia. Kita menyebutnya seperti itu.
Mengapa perlu ada batas untuk mereka yang kita anggap tak baik dan mereka yang kita anggap baik semata karena kita mendapat perlakuan yang berbeda?
Apakah kita hidup semata untuk menyenangkan mereka yang menyenangkan kita lantas berburuk sangka dan menjauhi mereka yang terkadang membuat kepala kita pusing tujuh keliling karena masalah sepele?
Jika demikian cara kita dalam menanggapi kehidupan, maka kita pun tak ubahnya seperti manusia dengan seribu rantai di leher. Keterkungkungan nalar juga rasa sepertinya hanyalah soal waktu bagi kita. Menurut kita hal itu benar karena keberadaan mereka yang membuat kita merasa tak nyaman hanyalah soal kapan kita bertemu dan kapan kita mengakhiri pertemuan. Dan, adakah sesuatu yang berkesan jika demikian cara kita memperlakukan kehidupan?
Aku dalam ke-akuanku selalu merasa bersalah ketika kuputuskan mendeskripsikan seseorang dengan sebutan "alien" atau "manusia aneh".
Apakah dengan menyebut alien, maka lantas kita menjadi manusia bumi yang normal?
Atau tidak sadarkah kita, bahwa boleh jadi kitalah sang alien yang tidak dapat memahami rahasia alam sebagai tanda keperkasaan Pencipta? Bahwa segala yang diciptakan mungkin ada yang serupa tapi tak sama namun tetap indah dipandang.. Meminjam kata Om Paulo Coelho bahwa tidak ada kecantikan yang nyaris sama. Dia dan saya, kita dan mereka sama-sama cantik dengan kecantikan kita sendiri.
Bahwa batas sejatinya hanyalah sekelumit rasa akan gengsi karena enggan dikatakan berbeda dari kebanyakan manusia yang selalu berada dalam pandangan normal.

Di titik ini, aku menyadari penuh arti memiliki kehidupan dan menghidupinya. Seperti kata Agustinus Wibowo dalam bukunya yang berjudul Titik Nol, Agustinus berujar "Awal adalah akhir, tiada awal, tiada akhir. Aku kembali ke titik nol." Pada detik ini, aku ingin kembali pada titik nol, titik dimana segala sesuatunya kembali normal, netral dan tidak berpihak. Tidak ada positif, tidak juga negatif. Titik yang memisahkan putih dan hitam kehidupan, baik dan buruk penilaian, titik yang sudah pasti bukan abu-abu.




Komentar