CADAS
http://sonimancing.blogspot.co.id/2011/10/pulau-karang-keren.html
Sama seperti angin menitipkan hembusan, maka biarkan aku menitipkan resah yang tak mampu diungkapkan lewat kata.
Sayang, aku tak bisa mengatakan ini rindu sebab rindu tak seharusnya berbalut luka akan rupamu. Dan di detik ini, aku masih tak paham mengapa kepercayaanku jatuh pada manusia sepertimu. Tidak inginkah kau mendengarku meski hanya untuk menyapa atau katakanlah bertanya kabar atau boleh jadi sekedar menyinggung hal sepele lantas tertawa renyah untuk beberapa saat dan kembali aktif melototi layar persegi panjang itu?
Ah, inikah yang kau sebut dengan gravitasi tak berarti?
Yang selalu kau dengungkan manakala kau tak ingin aku terlampau lupa diri?
Atau inikah yang selalu kau tekankan padaku?
Bahwa permen yang telah dibuka dan diemut sudah pasti tak senikmat sebelum ia dibuka, sebab kenikmatan sejati justru berada di titik di mana kita hanya bisa membayangkan seperti apa rasanya?
Apakah lantas itu berarti kau ingin pergi?
Ataukah kau ingin bilang bahwa kau tidak menginginkannya karena setelah kau emut sepuasmu, kau baru menyadari rasanya pahit?
Sayang... kuakui aku jauh lebih pahit dari yang kau bayangkan. Aku tidak manis seperti dugaan-dugaanmu sebelumnya. Dan aku terlampau bodoh menanggapi kesunyian yang kau hadirkan malam itu.
Aku ingin dibuat lupa bahwa aku pernah menganggapmu sebagai "bibit unggul", persis seperti yang selalu kau katakan.
Aku ingin lupa dengan filosofi perangmu atau tentang psikologi martir saat kuluapkan penatku.
Aku ingin lupa dengan pesanmu yang memintaku bahagia dengan diriku sendiri dan menerimaorang lain apa adanya sebagaimana layaknya mereka.
Dan jika aku punya cukup kekuatan juga ruang untuk meninjumu, maka sudah kuhajar engkau sejak lama.
Tak peduli kau akan memanggilku psikopat atau manusia gila!
Tidakkah kau berpikir untuk apa kau datang padaku jika kau bahkan tidak pernah menitipkan kecemasan akan ketidakhadiranku?
Atau untuk apa kau harus bersusah payah mengulangi pernyataanmu akan penerimaan diriku dalam hidupmu?
Dan...
Ya, aku memang terlampau bodoh jika berurusan dengan kelaki-lakianmu. Tak salah jika kau kupanggil batu cadas meskipun namamu bukan Petrus atau Petra...
Aku masih bertanya, apakah benar lingkunganmu yang membentukmu menjadi pribadi yang seolah tak mengenal kepedulian akan eksistensi manusia yang menginginkan pasangan hidup?
Atau aku yang salah dalam menilai perangaimu?
Atau salahkah aku jika aku menuntut kepastian yang sejatinya tak pernah pasti itu?
Boleh jadi aku yang terlalu berharap bahwa kau menepati janjimu untuk menungguku di ruang tunggu bandara Haji Hasan Aroebusman, atau jika kau masih di Pulau Karang, maka kau sudah pasti kau akan menampakkan batang hidungmu di Bandara El Tari lantas ketika kau berhadapan denganku, kita jadi manusia kaku seolah baru bertemu. Aku berharap kelak dapat kutemui dirimu diam di sudut rumahku.
Ah! Fantasi konyol macam apa itu?!
Dan masih inginkah dirimu diam dalam dekapan kesunyian yang tak mampu kupahami?
Sayang, bicaralah padaku meski sepatah saja agar aku tahu kau baik-baik saja saat ini.
Jangan membuatku berpikir bahwa kau terlampau tidak peka akan rasaku yang telah mekar menjadi bunga yang indah.
Dan, sadarkah dirimu aku ingin menjadi bunga yang utuh denganmu?
Atau salahkah aku bila aku menginginkan hal itu?
Maka, bicaralah sayang...
Bicaralah, bukan dengan gaya diplomatis nan filosofis, tapi dengan suatu ketegasan pasti.
Adakah rasa itu tumbuh dalam relungmu yang dalam?
Ah! Aku jelas bukan Pencipta dan juga bukan engkau.

Komentar
Posting Komentar