HILANG
Terkadang, sebuah percakapan dapat membawa kita menjelajahi pemikiran sederhana, seperti yang terjadi selamam.
Seorang perempuan duduk bersila sambil menutupkan wajah dengan kedua telapak tangannya yang halus. Perempuan ini mungkin hanyalah gambaran kecil wanita dengan kepekaan akan makhluk lain.
Kami duduk berhadapan menonton tv. Kebetulan sekali wajah Angelina Jolie terpampang jelas di hadapan kami berdua. Ia bilang ia begitu suka Jolie apalagi bibirnya itu. Seksi bukan main. Aku pun menimpali bahwa Jolie sendiri adalah aktris Hollywood yang pernah dinobatkan sebagai artis pemilik bibir terseksi. Dan kami lepas dalam tawa yang tak dapat diterjemahkan oleh alam. Hanya kami berdua yang tahu.
Sesekali aku menyeringai ketika dia mulai berkisah tentang salah satu kucing kesayangannya. Katanya kucing itu suka sekali berdiam diri dalam kardus. Kadang jika bukan kardus, maka pilihan lainnya yang cukup aman adalah helm motor. Aku geli membayangkan ada kucing menyelinap masuk dalam helm. Pastilah bulu-bulunya akan tertinggal di sana. Apakah ia akan marah atau mengusir kucingnya itu?
Santai ia menjawab seperti ini:
"Aku biarin aja dia di situ. Lagian dia suka masuk dalam helm".
Aku manggut seolah paham benar dengan perasaannya, sebab aku tahu hanya dengan cara itulah aku masuk dalam dunianya. Mungkin benar bahwa aku tidak dapat masuk dalam pengertiannya akan eksistensi dunia kucing, tapi setidaknya menyimak apa yang dikisahkan sudah lebih dari cukup untuk membuatku menyadari arti kehadiran makhluk kecil dengan kuku-kuku tajam nan mungil itu.
Setidaknya itulah yang bisa kulakukan.
Malam semakin larut. Aku terbius dengan kardus-kardus di hadapanku seketika kulihat bulir-bulir air matanya menetes perlahan, mengalir, menyampaikan duka pada langit dan seisi bumi. Matanya sembab. Ia diam dalam seribu tanya yang tak dapat kupahami. Bisu seketika.
Kulirik abang yang sedari tadi ragu untuk berkata.
"Dia kenapa bang?" tanyaku membuka percakapan.
"Kucingnya hilang dek?"
Dalam tangisnya, aku seolah menangkap kegelisahan seorang ibu yang tak menginginkan kepergian anaknya. Kurasa wajar jika ia menangis dalam diamnya yang tak diketahui oleh siapapun. Betapa tidak, ia sendiri yang mengurus kucing-kucing itu, mulai dari memberi makan hingga tumpangan.
Kini aku yang tak dapat berkata-kata. Mulutku terkunci.
Sesenggukan ia mulai bertanya tentang ketidakadilan.
"Apa salah kucing-kucingku Hana?"...
Sambil terisak ia melanjutkan, "Aku gak pernahlah usik kehidupan orang. Kucing-kucing itu kukasi makan setiap hari. Gak pernah kucing-kucingku makan dari orang lain. Tapi kenapa mereka tega buang kucing-kucingku,..."
Kini ia diam seketika. Tak mampu melanjutkan kata-kata. Bungkam. Aku membiarkan malam menafsirkan kegelisahannya.
Sakit itu jelas tergambar ketika isaknya pecah. Lagi-lagi kucing kesayangannya hilang entah kemana. Padahal, sebelum aku dan dia sempat keluar asrama untuk beberapa saat, masih kusaksikan kucingnya berada di luar pagar. Ia menuntun si kucing masuk lalu kami pergi untuk meminta kardus bekas buat dijadikan media pembelajaran yang akan ditampilkan pada hari ini.
Malang, desisku... Mungkin kenyataan kehilangan kucing bukanlah masalah yang terlalu berarti bagi sebagian besar manusia di sudut bumi ini, tapi jelas ini bukanlah persoalan yang mudah baginya. Masalah ini mencekat tenggorokannya, membuat wajahnya basah akan penyesalan mendalam layaknya seorang ibu. Sakit ini memaksanya masuk kamar lebih awal untuk tidur.
Ia pamit padaku.
***
Kupikir pagi ini ia tak masuk. Aku salah. Ia memanggilku dengan senyumannya yang khas. Membuatku bertanya-tanya.
Seketika ia menghampiriku dan berbisik "Kehilangan kucing membuatku tak mampu tidur bahkan ia merasuk dalam mimpiku Hana".
Aku iba.
Perempuan ini menghargai kehidupan lebih dalam pikirku. Ia merelakan kucingnya hilang tanpa pernah lagi membahas siapa yang membuang atau betapa teganya orang yang telah membuang kucingnya itu.
Aku tengah menyelesaikan tulisan ini ketika ia datang menghampiriku.
Aku mendesah. Seharusnya malam tadi ia tidur dalam dekapan bahagia karena telah memberi makan kucingnya. Sayang, ia dibayangi perasaan bersalah akan kehilangan kucing kecil itu.
Jika hatinya begitu luluh akan kehadiran kucing kecil itu, maka pastilah ia akan lebih memahami kehadiran manusia. Aku berharap, sungguh-sungguh berharap bahwa kasih itu pun sama besarnya. Tidak lebih kecil atau tidak lebih besar. Sama, karena yang dihadapinya bernama makhluk hidup.
Bengkulu, 12 Juni 2017
Untuk seorang perempuan yang kini tengah menanti keajaiban.
Komentar
Posting Komentar